Gereja Katolik Masape – Sejarah Iman dan Pelayanan yang Tak Terputus

Gereja Katolik Masape Alor Selatan

Masape, Alor — Perjalanan menuju kampung Masape pada Minggu, 12 Juli 2026, bukan sekadar perjalanan fisik menembus jalan pegunungan yang rusak. Bagi saya, ini adalah ziarah iman menapaki jejak sejarah sebuah komunitas Katolik yang lahir dari penderitaan dan keberanian para perintis sampai kini berwujud dalam komunitas Gereja Katolik Masape.

Pukul 06.30 kami berangkat dari Sidongkomang menuju Masape. Setelah satu jam enam belas menit menempuh jalan berbatu, berdebu dan menanjak, kami tiba di kapela yang ada di puncak pegunungan itu pada pukul 07.46. Umat sudah berkumpul untuk mengikuti Ibadat Sabda. Kami disambut hangat dengan senyuman dan tawa ria yang menggambarkan sukacita. Hidangan kopi hangat sudah cukup untuk menghangatkan raga di dinginnya udara pegunungan. Embun yang masih menempel di dedaunan sungguh menyegarkan mata.

Lihat juga: Syukur Kaul Kekal Sr. Bibiana Laumai, SSpS; Sukacita iman menyelimuti Apui

Gambaran Gereja Katolik Masape

Gereja Katolik Masape atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kapela Masape ini adalah satu dari enam kapela dalam wilayah pastoral Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting – Keuskupan Agung Kupang, dan termasuk lima kapela yang berada di daerah gunung dengan akses jalan yang sulit. Karena keterbatasan tenaga imam, Kapela ini hanya bisa dilayani sebulan sekali untuk Ekaristi, sedangkan ibadat lainnya dipimpin guru agama setempat atau katekis yang diutus dari paroki.

Perjalanan dari pusat paroki di Bukapiting/ Sidongkomang ke Kapela Masape butuh sedikit effort. Perjalanan menanjak melewati pegunungan dengan kondisi jalan yang rusak parah di separuh ruas perjalanan. Umatnya tidak banyak, cuma segelintir dan jauh di pedalaman yang sunyi dengan segala kesederhanaannya. Namun di balik kesederhanaan pagi ini, tersimpan kisah panjang yang dimulai hampir empat dekade lalu.

Dari Baptisan Pertama hingga Awal Komunitas

Informasi yang saya dapatkan dari bincang-bincang dengan mereka sepulang ibadat, masuknya Katolik di Masape berawal pada tahun 1986, ketika Pastor Florante Llames, SVD datang ke kampung itu guna membaptis Agustina Kafomai. Di tahun yang sama, menurut penuturan mereka, ayahnya, Andreas Kafomai, bersama Terince Mabilehi dan Yusuf Kafomai, telah lebih dulu dibaptis di Kalabahi.

Empat tahun kemudian, pada 1990, Martinus Maimani, seorang Smas/Diaken di gereja Protestan setempat, bersama enam rekan—Manase Mailehi, Simon Kafomai, Yohanes Kafomai, Kornelis Mabilani, Martinus Kafomai, dan Daud Kafomai—menarik diri dari gereja karena adanya persoalan internal. Langkah ini memicu tuduhan berat, hingga mereka harus menghadapi tekanan dari aparat desa dan babinsa atas permintaan kepala desa.

Di tengah tekanan itu, mereka memutuskan mencari jalan baru. Bersama Karolus Mabilehi—ayah dari Terince yang beragama Protestan tetapi mendukung niat mereka—dan bersama pula dengan Andreas Kafomai, mereka menghadap Pastor Dagobertus Sota Ringgi, SVD selaku Pastor Paroki Gembala Baik Alor Pantar di Kalabahi, untuk meminta perlindungan sekaligus mengungkapkan niat menjadi Katolik. Pastor Dago menegaskan bahwa perpindahan agama harus lahir dari kesungguhan hati, namun ia akan membantu memfasilitasi pertemuan dengan Komandan Distrik Militer (Dandim) Alor.

Rupanya upaya fasilitasi Pater Dago diterima Dandim. Setelah duduk perkara jelas, Karel Mabilehi dan kawan-kawannya dibebaskan.

Perlawanan dan Keteguhan Iman

Sepulang dari Kalabahi, mereka mulai mempraktikkan iman Katolik dengan bimbingan kerabat dari Mainang. Rumah ibadat darurat pun didirikan dan aktivitas ibadat dilaksanakan. Penolakan sempat datang, termasuk pengrusakan tempat ibadat sementara, tetapi mereka tetap teguh. Setelah sempat berpindah-pindah lokasi, akhirnya pada 2008 mereka berhasil membangun rumah ibadat permanen dengan bantuan Keuskupan, sebuah rumah ibadat yang anggun di tengah hamparan perbukitan dengan padang savana menghijau. Rumah ibadat Gereja Katolik Masape ini diberkati pada tanggal 8 Agustus 2008 oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang.

Kunjungan Perdana Pastor Paroki

Setahun berselang, pada 1991, Pastor Dago melakukan kunjungan perdana ke Masape untuk meresmikan komunitas Gereja Katolik Masape tersebut. Ia datang melalui pusat stasi di Mainang. Umat Katolik Stasi Mainang pun hadir bersama untuk memberi dukungan kepada umat baru Masape. Kehadiran ini menjadi peneguhan bahwa perjuangan mereka mendapat tempat resmi dalam lingkup Gereja.

Kini komunitas Katolik Masape terdiri dari enam kepala keluarga dengan total 24 jiwa. Ada yang kemudian pergi menetap di Mainang dan ada pula yang merantau ke Kalimantan namun yang tinggal, terus menjaga komunitas itu.

Pelayanan Hari Ini, Warisan Kemarin

Saat berdiri di hadapan umat pagi ini, saya melihat bahwa iman mereka adalah warisan yang hidup. Jalan rusak, jarak jauh, dan keterisolasian tidak memadamkan semangat. Kisah masa lalu yang penuh perjuangan kini menjadi fondasi keteguhan mereka di tengah keterbatasan pelayanan.

Gereja Katolik Masape mengajarkan bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tetapi persekutuan umat yang berani memikul salib. Dan di puncak pegunungan ini, jauh dari hiruk pikuk kota, salib itu dipikul bersama—dengan senyum, doa, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. (Hilarius Benediktus)

Terima kasih telah membaca artikel tentang Gereja Katolik Masape ini. Lihat juga teks Lagu Misa lainnya:

Lihat juga konten-konten terbaik dari Liturgi Katolik:

LiturgiKatolik.Com, Rumah teks lagu-lagu Misa. One Good Ultimate.

Scroll to Top