Profil Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor

Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor

Informasi Paroki

Nama Paroki
Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor

Pelindung
Santu Yakobus Rasul

Hari Raya Pelindung
25 Juli

Keuskupan
Keuskupan Agung Kupang

Alamat
Sidongkomang, Bukapiting, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur

Tahun Berdiri sebagai Paroki
25 Desember 2010

Status Sebelumnya
Kuasi Paroki (10 Agustus 2008)

Pastor Paroki
RD. Alfons Nara Hokon

Pastor Rekan

  • RD. Robert Yanto Faot
  • RD. Vergelius Mandonsa

Kongregasi Suster
SSpS (Servae Spiritus Sancti / Suster Abdi Roh Kudus)

Wilayah Pelayanan

  • Kecamatan Alor Timur Laut
  • Kecamatan Alor Timur
  • Kecamatan Alor Selatan
  • Kecamatan Alor Tengah Utara
  • Kecamatan Lembur

Jumlah Kelompok Umat Basis (KUB)
6 KUB

Kapela Wilayah Paroki

  • Kapela Santu Stefanus Maipiting
  • Kapela Santu Arnoldus Janssen Apui
  • Kapela Santu Paulus Minumawati–Masape
  • Kapela Santa Maria Lourdes Atengmelang
  • Kapela Santa Maria Bunda Penebus Manetwati
  • Kapela Santu Petrus Luba
  • Kapela Santa Maria Bintang Timur Maritaing

Mata Pencaharian Utama Umat
Pertanian lahan basah dan lahan kering

Bahasa Daerah
Beragam bahasa daerah Alor sesuai wilayah pelayanan (Bahasa Kamang dan Bahasa Abui).

Jarak dari Kota Kalabahi
Sekitar 32 km ke arah timur.

Lihat juga:

Profil Singkat Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor

Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor merupakan salah satu paroki di wilayah Gerejawi Keuskupan Agung Kupang yang berpusat di Sidongkomang, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Paroki ini diresmikan oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, pada 25 Desember 2010. Sebelumnya, wilayah ini berstatus sebagai Kuasi Paroki sejak 10 Agustus 2008 setelah dimekarkan dari Paroki Yesus Gembala Yang Baik Alor–Pantar.

Sebelum menjadi kuasi paroki, wilayah ini merupakan pusat Stasi Alor Timur yang melayani Kapela Santa Maria Bunda Allah Sidongkomang, Kapela Santu Stefanus Maipiting, Kapela Santu Arnoldus Janssen Apui, dan Kapela Santu Yoseph Likuwatang. Seiring pertumbuhan umat dan perkembangan karya pastoral, wilayah ini akhirnya berkembang menjadi sebuah paroki mandiri yang terus melayani umat Katolik di kawasan timur Pulau Alor.

Awal Masuknya Iman Katolik

Sejarah masuknya iman Katolik di wilayah yang kini menjadi Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor memiliki kisah yang unik. Berbeda dengan banyak daerah lain di Indonesia yang menerima pewartaan Injil langsung dari para misionaris, benih-benih iman Katolik di wilayah ini justru dibawa oleh putra-putra daerah yang merantau ke Makassar dan kemudian kembali ke kampung halaman sambil membawa iman yang telah mereka terima.

Tokoh-tokoh perintis tersebut antara lain Laurensius Langwo dari Kampung Menegeng dan Salmon Malley dari Kampung Bauta yang merantau ke Makassar pada tahun 1928. Laurensius Langwo bahkan menerima Sakramen Baptis di Makassar sebelum kembali ke Alor. Bersama mereka terdapat pula Yosep Kudja dari Kampung Dopbina (Kabola), Simon Moi dari Moru, dan Langkaming dari Kamana. Sekitar tahun 1940–1945 mereka kembali ke kampung halaman dan mulai menghidupi iman Katolik secara diam-diam karena pada waktu itu agama Protestan telah lebih dahulu berkembang di wilayah tersebut.

Selain melalui para perantau, perkembangan iman Katolik juga dipengaruhi oleh pengalaman rohani yang dialami Aleksander Onlet dari Kampung Atoita dan Soleman Kamengmai dari Kampung Maumang. Keduanya memperoleh petunjuk melalui mimpi yang mengarahkan mereka untuk menemui Salmon Malley dan mengenal iman Katolik. Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik awal mereka beserta keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Aleksander Onlet kemudian bersama keluarganya menetap di Manasamang atas arahan Tamukung Atoita, Langmal Maitia, agar tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat yang telah memeluk agama Protestan. Di tempat baru inilah komunitas Katolik mulai berkembang di bawah bimbingan Nikodemus Onlet serta didukung Bernadus Ola Koban dari Kedang yang saat itu tinggal di Kalabahi. Perlahan-lahan umat dari kampung Sumang, Saiman, Lawamaita, dan Puiwela ikut bergabung membentuk komunitas Katolik yang semakin bertumbuh.

Di Kampung Maumang, Soleman Kamengmai juga membuka rumahnya sebagai tempat ibadat mingguan setelah mengalami kesembuhan yang diyakininya sebagai buah campur tangan Tuhan yang dialaminya melalui mimpi. Walaupun harus menghadapi penolakan dan penganiayaan, termasuk dipukuli oleh penguasa adat setempat karena dianggap mengikuti “Perintah Baru”, Soleman tetap teguh mempertahankan imannya.

Perkembangan Komunitas Katolik

Perjalanan Gereja Katolik di wilayah ini tidak berlangsung tanpa tantangan. Pada sekitar tahun 1946–1947, setelah komunitas Katolik di Manasamang dibuka, Aleksander Onlet beserta para orang tua, digiring ke pusat Distrik di Taramana untuk menjalani kerja paksa dan berbagai bentuk hukuman, karena mereka beralih memeluk agama Katolik. Rencana pembangunan rumah ibadat juga beberapa kali mengalami hambatan.

Namun, berbagai tekanan tersebut tidak memadamkan semangat umat. Sebaliknya, iman Katolik terus menyebar ke berbagai kampung seperti Supai, Kaumo, Tuaibu, dan Dalibika.

Salah satu peristiwa penting dalam perkembangan Gereja terjadi pada 21 November 1947 ketika Martinus Maure dan Yosep Langko dari Menegeng serta Samuel Kamauko dari Susuimang menerima Sakramen Baptis di Kalabahi. Peristiwa ini menjadi pendorong semakin banyak masyarakat di kampung asal mereka untuk memeluk iman Katolik. Walaupun Samuel Kamauko kemudian berbalik kembali menjadi Protestan.

Komunitas Katolik juga sempat tumbuh di Kampung Tuaibu dan Dalibika yang sempat dilayani guru agama, yaitu Welem Langko dan Arnoldus Asamai. Namun karena tidak memperoleh dukungan dari sebagian besar masyarakat setempat, komunitas Katolik di kedua kampung tersebut akhirnya menghilang sekitar tahun 1982.

Rumah Ibadat Pertama dan Perkembangan Pastoral

Rumah ibadat pertama didirikan di Atoita pada tahun 1949. Pada tahun 1960 rumah ibadat tersebut dipindahkan ke Waimi yang kemudian berkembang menjadi pusat kehidupan umat. Pada waktu yang bersamaan dibangun pula sebuah rumah ibadat di Molpui untuk umat Katolik dari Manegeng, Susuimang dan Maumang.

Tanggal 1 Januari 1962 menjadi tonggak penting dengan dibukanya Sekolah Dasar Katolik di Waimi. Kehadiran para guru membantu memperkuat organisasi Gereja melalui pembentukan Komunitas Basis berdasarkan suku-suku yang ada.

Menurut Catatan Buku Induk Paroki Yesus Gembala Yang Baik Kalabahi, Pastor Petrus Konijn, SVD dari Larantuka pertama kali mengunjungi umat pada 1–4 Oktober 1949 dan membaptis 51 orang. Pelayanan berikutnya berlangsung pada 31 Maret–3 April 1950 dengan 127 orang menerima Sakramen Baptis. Sejak saat itu kunjungan para imam berlangsung secara rutin sehingga setiap tahun selalu ada penerimaan Sakramen Baptis.

Para imam yang pernah melayani pembaptisan di wilayah ini antara lain Pastor Petrus Konijn, SVD, Pastor Joseph Weijs, SVD, Pastor Joseph Kwegeng, SVD, Pastor Didakus Diwa, SVD, Pastor Melkior Belawa, Pastor A. Stoop, SVD, Pastor Florante Llames, SVD, dan Pastor Frans Amanue.

Pada 14 Juni 1966, umat juga menerima kunjungan pastoral Uskup Larantuka, Mgr. Antoine Hubert Thijssen, SVD yang menerimakan Sakramen Krisma kepada umat di Waimi. Sebelumnya, pada tahun 1958 sebagian umat menerima Sakramen Krisma dari Uskup Mgr. Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, SVD di Kalabahi.

Perjalanan Menuju Bukapiting

Kondisi geografis yang bergunung-gunung menyebabkan permukiman umat terpencar sehingga sulit membangun pusat pelayanan pastoral. Pada akhir dekade 1960-an sebagian umat sempat berpindah ke dataran Apui dengan harapan membangun pusat komunitas baru. Bahkan fondasi rumah ibadat telah dibuat.

Namun, atas pertimbangan pemerintah setempat, perpindahan tersebut tidak dapat dilanjutkan. Atas arahan Camat Alor Timur dan Kepala Desa Waisika, Semuel Asamai, umat kemudian dipindahkan ke dataran Bukapiting, khususnya wilayah Sidongkomang dan Dingsinang. Perpindahan ini dimulai pada tahun 1974 dan menjadi titik awal berkembangnya pusat kehidupan Gereja hingga akhirnya menjadi sebuah paroki, yang sekarang dikenal sebagai Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Aor.

Pada tahun 1977 dibangun gereja permanen di bawah kepemimpinan Pastor Florante Llames, SVD. Selain membangun gereja, beliau juga mendirikan Balai Pengobatan/Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BP/BKIA). SDK Waimi dipindahkan ke Sidongkomang dan berganti nama menjadi SDK Santu Paulus Sidongkomang. Sejak tahun 2000, para Suster Abdi Roh Kudus (SSpS) mulai menetap dan berkarya di Sidongkomang.

Gambar di bawah ini adalah Gereja Stasi Bunda Allah Sidongkomang saat sedang dalam proses pembangunan. Gereja ini rubuh oleh gempa bumi 12 November 2004, kemudian atas bantuang Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, dibangun gedung gereja baru yang kini menjadi gereja paroki.

Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor

Wilayah Pastoral Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor

Setelah resmi menjadi paroki, wilayah pastoral Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor mengalami beberapa penyesuaian. Kapela Atengmelang, Kapela Manetwati, dan Kapela Masape yang sebelumnya berada dalam wilayah pastoral Stasi Santa Maria Bunda Allah Mainang menjadi bagian dari Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor. Sementara itu, Kapela Santu Yoseph Likuwatang dialihkan ke wilayah pastoral Stasi Takalelang, Paroki Yesus Gembala Yang Baik Alor–Pantar.

Saat ini wilayah pelayanan paroki Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor mencakup Kecamatan Alor Timur Laut, Alor Selatan, Alor Tengah Utara, Lembur dan Alor Timur. Pusat paroki berada di Bukapiting, tepatnya Sidongkomang, sekitar 32 kilometer di sebelah timur Kota Kalabahi.

Di pusat paroki Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor terdapat enam Kelompok Umat Basis (KUB), sedangkan pelayanan di luar pusat paroki dilaksanakan melalui tujuh kapela, yaitu:

  • Kapela Santu Stefanus Maipiting (Alor Timur Laut)
  • Kapela Santu Arnoldus Janssen Apui (Alor Selatan)
  • Kapela Santu Paulus Minumawati–Masape (Alor Selatan)
  • Kapela Santa Maria Lourdes Atengmelang (Alor Tengah Utara)
  • Kapela Santa Maria Bunda Penebus Manetwati (Alor Tengah Utara)
  • Kapela Santu Petrus Luba (Lembur)
  • Kapela Santa Maria Bintang Timur Maritaing (Alor Timur)

Sebagian besar umat Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor merupakan penduduk asli Alor yang bermata pencaharian sebagai petani lahan basah dan lahan kering.

Letak Geografis

Wilayah Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor didominasi oleh bentang alam pegunungan khas Pulau Alor. Kondisi geografis ini menjadikan jarak antarkampung maupun antarkapela cukup berjauhan sehingga pelayanan pastoral memerlukan waktu dan tenaga yang besar.

Keragaman budaya dan bahasa daerah yang dimiliki umat juga menjadi kekayaan sekaligus tantangan dalam karya pastoral. Setiap hari Minggu, para pastor secara bergiliran merayakan Ekaristi di gereja paroki maupun di kapela-kapela dengan dukungan para frater dan suster.

Para Pastor yang Pernah Bertugas

  • RD. Daniel Banamtuan (2008–2016)
  • RD. Yohanes Eudes Nofu (2011–2018)
  • RD. Robert Yanto Faot (2016–sekarang)
  • RD. Alfons Nara Hokon (2018–sekarang)
  • RD. Vergelius Mandonsa (2023–sekarang)

Pelindung Paroki

Pelindung Paroki adalah Santu Yakobus Rasul. Nama ini diberikan oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, ketika mempromulgasikan Kuasi Paroki Bukapiting pada 10 Agustus 2008. Di bawah perlindungan Santu Yakobus Rasul, umat Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor terus bertumbuh sebagai persekutuan yang berakar pada iman, setia dalam pelayanan, serta menjadi saksi Kristus bagi masyarakat di kawasan timur Pulau Alor. (Hilarius Benediktus)

Terima kasih telah membaca Profil singkat Paroki Santu Yakobus Rasul Bukapiting Alor. Lihat juga teks berbagai Lagu Misa melalui tautan di bawah:

Lihat juga konten-konten terbaik dari Liturgi Katolik:

Scroll to Top